AgusNaim Belajar Membuat Blog

Belajar yang Bisa Dipelajari, Berbagi yang Bisa Dibagi

Browsing This

Sejarah Pemilu Damai Indonesia episode 3

Posted in February 6th, 2009
Published in Kampanye, NeedToKnow

Di hari ke 6 kontes SEO dengan keyword Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 dari OmPogung berlangsung, semakin kelihatan sampai dimana kemapuan ayas tentang SEO. Setelah dibuat heran kok bisa sampai muncul di halaman pertama pada hari ke-3 kontes, kini mungkin sudah di kisaran halaman 20-30 (ya terang saja, para masternya belum turun tangan). Untuk itu, secara sadar ayas tetep berpartisipasi dalam kontes Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 tapi hanya sebatas penggembira dan pengamat saja.

Kembali pada seri sejarah pemilu indonesia yang ditulis sebelumnya, mari kita lanjutkan bahasan kita mulai dari pemilu ke-3 yang dilaksanakan tahun 1977. Pemilu kali ini diadakan 6 tahun setelah pemilu 1971 dan semenjak saat itu, pemilu yang rutin dan teratur diselenggarakan setiap 5 tahun sekali.

Perbedaan paling mencolok dibandingkan pemilu sebelumnya adalah jumlah peserta pemilu yang sangat jauh berkurang yaitu hanya 2 partai dan satu Golkar (tidak mau disebut partai). Hal ini terjadi berkat kerja keras DPR dan MbahTo (baca: pemerintah) menderhanakan jumlah partai dengan menerbitkan UU No. 3 tahun 1975 tentang partai politik dan Golkar. Jadi sejak saat itu, karena menggunakan dasar Undang-Undang yang sama, selam 5 kali pemilu berikutnya (1982, 1987, 1992, dan 1997) pesertanya tidak mengalami perubahan.

Hasilnya pun sama, pemenang pemilu 1971 yang mengklaim dirinya bukan partai yaitu GOLKAR selalu menjadi pemenang, sedangkan PPP dan PDI hanya sebagai pelengkap penderita saja. Mungkin hanya karena sebutan lain dari pemilu (yang digembor-gemborkan dulu) adalah Pesta Demokrasi, jadi ga asyik dong pesta sendirian, asal kelihatan demokratis, pasti pemerintah (MbahTo) sudah tenang dan senang.

Hasil pemilu yang begini inilah yang membuat MbahTo secara langsung mengontrol negeri ini, baik eksekutif maupun legislatif. Karena notabene beliau adalah Pendiri dan Pembina Golkar. Seperti yang kita tahu, pendukung utama Golkar adalah birokrat-birokrat dari sipil dan militer. –Ingat!!! Birokrat dari Sipil dan Militer dan Bukan Saudagar seperti yang kita tahu saat ini– Jadi bagaimanapun, siapapun, dimanapun, yang namanya birokrat, kan harus tunduk dan patuh pada pimpinan. Nah, siapa pemimpin para birokrat? Kalo ayas tidak salah ingat, ya Presiden (baca: MbahTo).

Berikut hasil pesta demokrasi semu tersebut secara ringkas:

Pemilu 1977 menghasilkan 62,11% dari suara sah dan menang mutlak selain di propinsi DI Aceh (NAD sekarang) dan DKI Jakarta bagi Golkar.

Pada Pemilu 1982 hanya Aceh yang bisa dimenangkan oleh PPP, 26 propinsi lain habis ditelan Golkar dengan meraih 64,34% dari surat suara yang sah.

Pemilu 1987 inilah puncak ke-komunisan MbahTo dengan Golkarnya yang meraup 73,16% surat suara sah dilegalkan. Karena adanya upaya penggembosan pendukung PPP yang notabene umat islam dengan melarang partai itu untuk menggunakan Asas Islam dan merubah lambang partai dari Ka’bah menjadi Bintang. Kenapa ayas menyebut MbahTo komunis? (Jangan emosi dulu, ayas juga punya alasan).

Ayas yang bodoh dalam hal politik berpikiran begini. “Apa bedanya Indonesia saat itu dengan North Korea yang disebut-sebut komunis (yang notabene ajaran yang dilarang di Indonesia)? Karena biasanya pemerintahan komunis selalu mengontrol partai-partainya dengan ketat demi kepentingan negara (sampean bisa lihat sejarah East Germany dan USSR, atau Kuba, Iran, dan Tiongkok yang saat ini masih berdiri dengan gagahnya)”.

Dengan turut campur tangannya pemerintah dalam urusan internal partai, bukankah pemerintahnya lebih komunis dari pemerintah yang terang-terangan mengaku dia komunis. Kalau pemerintahannya komunis, berarti pemimpin pemerintahannya juga komunis dong? Lho, kalo gitu MbahTo komunis dong? (silahkan menilai sendiri, karena dia sudah mati dan ga bakalan ngaku).

Lho, berarti Pancasila (yang diagung-agungkan oleh pemerintah) malah lebih komunis daripada komunis itu sendiri dong? Kalau sampeyan menjawab iya, siap-siaplah berteman dengan ayas dan kita bisa berdiskusi sehari semalam. Karena bagi ayas, tidak ada ideologi politik yang lebih bagus dan lebih indah dari pancasila yang dijabarkan dalam Undang-Undang Dasar yang telah diobrak abrik (baca: di amandemen) dengan baik dan benar itu. Karena Pancasila bener-bener diramu dari berbagai macam bahan oleh ratusan otak-otak brillian para pendahulu kita. Maka PANCASILA bisa lebih islamis daripada islam, lebih liberalis daripada liberal, lebih fasis daripada fasis dan bahkan bisa lebih komunis daripada komunis itu sendiri. Tentunya dengan (minjem istilah MbahTo) pengejawantahan yang baik dan benar.

Pemilu berikutnya yang dihelat pada tahun 1992, perolehan suara Golkar merosot dan kehilangan 17 kursi di Senayan, sedangkan PPP hanya berhasil meningkatkan 1 kursi disaat PDI melesat dengan tambahan 16 kursi parlemen. Hal ini tidak lepas dari munculnya sosok Megawati yang membawa embel-embel Soekarnoputri meski hanya secara biologis (pendukung Mega ojok ngamuk sorry ).

Setahun sebelum Pemilu edisi 1997, keruntuhan komunisme pancasila ala MbahTo mulai nampak. Karena ulah pemerintahan yang semakin otoriter dan semena-mena, mulai muncul perlawanan mahasiswa dimana-mana yang berakhir dengan lenyapnya para akltivis. Akan tetapi tanda-tanda perubahan politik di Indonesia sudah muncul dari deklarasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) di tahun 1996 setelah hampir 30 tahun tidak ada partai politik pemberi warna baru di Indonesia meski akhirnya dicap komunis juga oleh pemerintahan yang juga komunis (lucu yah sinchan ).

Ditambah lagi ulah pemerintah (Golkar) yang semena-mena melengserkan Megawati dari PDI dan menunjuk Soerjadi sebagai Nahkoda partai banteng tersebut. Yang mengakibatkan peristiwa berdarah (yang tidak jelas kasus hukumnya) yang sangat terkenal hingga penjuru dunia yaitu peristiwa 27 Juli 1996 atau biasa disebut kudatuli. Tentang penyerbuan Kantor Pusat PDI (yang notabene dihuni oleh para pendukung Megawati) konon (konon lho….dari cerita kakakku yang mati-urip melok Mega) oleh massa yang berpakaian PDI dan berbody padat berambut cepak 3-2-1 bersenjata sangkur, kayu dan batu (jadi inget gerombolan si berat).

Hasil yang cukup menggembirakan bagi Golkar, karena jika dilihat hasil pemilu 1997, dengan 325 kursi Parlemen berarti ada peningkatan 43 kursi dari pemilu sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi pada PPP yang melonjak 27 kursi dari pemilu 1992. Sebenarnya hal ini tidak terlepas dari 2 peristiwa diatas. Yakni konflik internal PDI serta kemunculan PRD yang dianggap komunis ituh. Meskipun PRD cukup berhasil menggembosi suara PDI yang secara legal diakui adalah PDI kubu Soerjadi dengan menghembuskan isu MEGA-BINTANG. Masih ingat kan? Soalnya itulah pertama kalinya ayas melek politik (meski masih ABG kelas 1 STM ) dan ikut menyebarluaskan selebaran Mega-Bintang bersama aktivis PRD he..he… ngacir

Wuih, ternyata sudah panjang juga yah. Tapi sebelumnya yang harus kita ketahui, mengapa aktivis mahasiswa era 1997-2000 ngotot banget dengan pembubaran Golkar, bisa dipahami kejadian-kejadian dan kenyataan-kenyataan diatas, dimana ketika sedang berkuasa sebagai pelaksana dan pengawas pemerintahan (baca: menguasai Eksekutif dan Legislatif), dosa besar Golkar dalam menghancurkan PPP di tahun 1987 dan PDI di tahun 1997 tidak bisa dilupakan begitu saja.

Alasannya jelas, pemilu 1982 Golkar belum bisa menguasai Aceh yang notabene Propinsi basah dengan beraneka sumber daya alam (terutama tembakau nikmatnya hmmmm….. kembar ) dan kemunculan Megawati di jajaran tertinggi PDI di tahun 1992-1996 yang membawa-bawa Bung Karno yang notabene musuhe MbahTo.

Oke lah, segitu saja dulu karena sudah terlalu puuuanjang episode 3 dari Sejarah Pemilu Indonesia ini. Sebagian yang tertulis diatas hanyalah opini pribadi (selain data-data yang diambir dari TempoInteraktif dan KPU), jadi kalau ada yang tersinggung silahkan berkomentar dan ayas akan dengan senang hati untuk meminta maaf dan ampunan. Mungkin akan ada episode 4 sekaligus terakhir sebagai ucapan selamat tinggal terhadap perang SEO Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Teknik SEO ayas payah, ayas mau konsen menghadapi Kampanye Pemilu Indonesia 2009 aja semoga ada job pemesanan massa untuk Konvoi Pemilu yang Cinta Damai dan Money.


Tulisan ga jelas yang laen

Hari pertama !
Tanggapan Dari Indosat M2
Susahnya Hidup Tanpa Internet
Indosat 3G Merambah Malang
Kejutan di Pagi Hari dari DIGG.com

nYang nyasar kesini mencari:

kampanye pemilu pdi 1992, pemilu ke 3 tahun 1982, perbedaan pemilu 1987 1992

6 Users Commented In " Sejarah Pemilu Damai Indonesia episode 3 "

Subscribes to this post Comment RSS or TrackBack URL
Fajarseraya memberikan nasehat:

Wah b0s jadi caleg ya krng???

=AgusNaim=
Caleg yang kayak gimana nih? Ga punya modal Bro. baik modal kemapuan maupun modal materi ngacir

coi memberikan nasehat:

Poltisi yg blogger nih kayaknya ngacir

=AgusNaim=
tepatnya blogger yang belajar politik ayuk sinchan damn kembar

rudy memberikan nasehat:

Salam kenal Mas,
Tulisan sejarah pemilunya bagus banget.

=AgusNaim=
Salam kenal juga, terima kasih kalo ada yang suka

brochure design memberikan nasehat:

Wah semakin banyak yg ikut lomba pemilu damai indonesia, semoga menang ya :)

=AgusNaim=
he..he.. ayas ga serius kok bro. Cuman ikut-ikutan aja, masih nyubi nih damn

Kang, besuk mau nyoblos apa? saya mau mbolos aja kayanya ngacir

=AgusNaim=
iya nih, kayaknya juga masih mbolos

Leave Your Reply Below

 Username

 Email Address

 Website

sorry ngacir sensor nocomment toss tipi tendang sombong sinchan sial senam nyerah ngiler nggaya nangis musik males love konslet kembar gatau damn bye ayuk

Sticky note: Tolong berkomentar (paling tidak) berhubungan dengan tulisan diatas. Tidak ada moderator disini. Jika kawan-kawan ingin nambah Backlink, masukkan saja "anchor text" sebagai pengganti nama. Saya memperoleh masukan, Kawan-kawan mendapatkan backlink. Saling menguntungkan bukan?

Si goBlog

myimgAgusNaim hanyalah anak manusia yang ingin mewarnai kehidupan dari dunia yang dianggap maya ini. Dunia tempat saya mencari tambahan untuk membeli sepiring spaghetti dan sepotong roti. Tidak ada yang spesial dari saya, apalagi dari blog ini. Anda tidak akan menemukan apapun disini. Selain celotehan, omelan dan pengalaman saya sendiri. Semua yang tertulis disini menjadi tanggung jawab saya pribadi. Saya hanya ingin terus belajar yang bisa dipelajari dan selalu berbagi yang bisa dibagi. Kalo gitu, kenapa semua kalimat berakhir dengan huruf i? Karena saya sangat menyukai petuah "Surodiro Djajaningrat, Lebur Dening Pangastuti"